NAVIGATION

TREDNING POSTS

1 Flash News | News flash

Citi Indonesia Luncurkan Citi Simplicity

2 Articles | Flash News | Health | Lifestyle | News flash

Mitos Utama dalam Diet

3 Articles | Business | Community | Digital Marketing | Entrepreneur | Expert | Flash News | HR Management | News flash | Personal Branding

Talent dan Persaingan Global

17 Friday, November 2017

Pintu Gerbang Kemerdekaan Digital Indonesia

Pintu Gerbang Kemerdekaan Digital Indonesia

31
Kemerdekaan negara Indonesia memang diraih lewat perjuangan menghapus penjajahan. Namun perlu diingat, pemikiran untuk menjadi sebuah bangsa yang merdeka juga lahir dari jalur pergerakan dan suguhan kopi. mudah terpenuhi di warung kopi.

Almarhum Gus Dur pernah bercerita, sejak 1919, Soekarno gemar bertemu dengan para tokoh bangsa. Elemen penting dari kebiasaan berdiskusi itu ialah seduhan kopi. Selama 71 tahun usai diantarkan pendiri bangsa menuju pintu gerbang kemerdekaan negara, rakyat Indonesia hidup dalam zaman digital. Pilar
kemerdekaan ialah kebebasan. Begitu pula makna sebuah kemerdekaan di era digital saat ini, yaitu kebebasan memperoleh akses komunikasi.

Bebas akses bukanlah sekadar kemudahan, tetapi juga tanpa batas (waktu dan kuota) dan harus murah.
Bagi rakyat Indonesia, satu-satunya pintu gerbang menuju kemerdekaan digital itu ialah warung kopi dengan
free Wi-Fi (Wi-Fi gratisan). Beberapa data setidaknya bisa saling dikaitkan untuk menjelaskan hal tersebut.

Di panggung Mobile Stage Konferensi Tech in Asia 2015, Jonathan Zhong dari UC Web menegaskan pengguna perangkat digital di Indonesia bergantung pada internet Wi-Fi dibandingkan mobile data. Dalam satu hari, setiap pengguna rata-rata membutuhkan minimal 500 Mb data untuk semua jenis aktivitas daring. Perilaku pengguna seperti ini sangat mudah dengan Wi-Fi gratisan.
Begitu pun bila mengacu data dari We Are Social (Januari 2016) tentang profil pengguna Internet Indonesia. Waktu yang digunakan setiap pengguna dalam sehari antara 3 jam 33 menit (perangkat seluler) hingga 4 jam 42 menit (perangkat tablet). Sementara itu, alokasi menonton televisi dalam satu hari rata-rata 2 jam 22  enit. Andai dua aktivitas ini diakumulasi waktunya dan bersamaan, fasilitas yang murah, lagi-lagi di warung kopi dengan Wi-Fi gratisan.

Belum lagi kaitan pertumbuhan pengguna internet dan warung kopi. Masih dari data We Are Social, saat ini 88,1 juta dari total 259,1 juta penduduk Indonesia aktif menggunakan internet. Sementara itu, perangkat yang terhubung sebanyak 326,3 juta, artinya setiap pengguna memiliki lebih dari satu perangkat.

Dengan akses yang mudah dan murah ala warung kopi dengan Wi-Fi gratisan, jumlah pengguna sekaligus perangkatnya berpotensi naik. Minimal bisa 130,9 juta pengguna, mengacu pada jumlah penduduk usia 15 hingga 49 tahun yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Sedangkan perangkat yang terhubung bisa mencapai 484,3juta atau mendekati dua kali lipat dari total penduduk.
Pada April 2016, pihak Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) menyebut tingkat konsumsi kopi nasional pada 2013 sebanyak 4.042.000 bungkus. Tahun berikutnya naik menjadi 4.167.000 bungkus. Padahal, satu bungkus itu setara 60 kilogram. Dengan asumsi peningkatan yang sama, hingga akhir 2016 akan terjadi konsumsi 4.300.000 bungkus atau setara 258.000.000 kilogram.
Lalu berapa jumlah warung kopinya? AEKI pernah melakukan penghitungan sederhana. Sebuah warung kopi kecil di Aceh bisa menghabiskan 5.000 gelas per hari atau setara 50 kilogram kopi. Dengan asumsi itu, terdapat setidaknya 5.160.000 warung kopi di seluruh Indonesia. Bila dibagi dengan 81.253 jumlah wilayah setingkat desa dan kelurahan, maka rata-rata ada 64 warung kopi di setiap desa dan kelurahan. Andai 5,1 juta warung kopi di seluruh Indonesia mampu menyuguhkan fasilitas Wi-Fi gratisan. Mengutip istilah perpolitikan di Aceh, keude kupi ialah kunci, maka warung kopi dengan free Wi-Fi merupakan satu- atunya pintu gerbang menuju kemerdekaan digital bagi rakyat Indonesia. (*)

Top